Asal mula

Tahun 1969, pesawat Apollo 11 berhasil membawa dan
menjejakkan manusia untuk pertama kalinya di Bulan. Tentu kita semua
masih ingat siapa saja awak dari Apollo 11 itu. Nama Niel Amstrong, Buzz
Aldrin, dan Michael Collins mungkin merupakan nama-nama yang sudah
tidak asing lagi kita dengar. Ketiga orang itulah para astronot yang
dikirimkan oleh NASA dalam misi penerbangan manusia pertamakali ke Bulan
dengan Apollo 11. Peristiwa ini tentunya menjadi suatu tolak ukur bagi
kemajuan IPTEK kita, dan mungkin kedepannya penjelajahan ke Mars maupun
planet lainnya dengan mengirimkan manusia pertama kesana bukan menjadi
suatu impian lagi.
Namun sayang, setelah lebih dari tiga dekade terlewati pro kontra
masih membayangi peristiwa bersejarah itu. Banyak oknum yang belum
sepenuhnya mempercayai bahwa NASA benar-benar mendaratkan manusia ke
Bulan dikarenakan beberapa sebab, diantaranya penguasaan teknologi yang
belum memadai saat itu,dll. Era tahun 1969 merupakan masa dimana perang
dingin antara Uni Soviet dan Amerika belum berakhir. Mungkin karena
ambisinya untuk memenangkan perang dingin inilah yang membuat pihak
Amerika kemudian membuat suatu “kecurangan” dengan sebuah proyek
rekayasanya yang mengambil setting pendaratan di bulan tsb. Satu fakta
yang mungkin membuat Amerika “geram” adalah kabar keberhasilan Soviet
yang telah mengorbitkan Vostok 1-nya bersama Yuri Gagarin, sebagai
manusia
Pada tahun 1974, seseorang bernama
Bill Kaysing menerbitkan sebuah buku berjudul
We Never Went to the Moon: America's Thirty Billion Dollar Swindle. Isinya mengatakan bahwa Amerika Serikat telah memalsukan pendaratan di bulan. Hasil investigasinya didasarkan
pada kejanggalan yang ada pada rekaman dan foto-foto yang dirilis oleh
NASA.
Sejak itu, teori konspirasi pendaratan bulan lahir. Beberapa buku
ditulis setelah buku Kaysing, mengusulkan ide yang sama. Setelah itu
buku-buku atau situs yang membela pendaratan di bulan juga bermunculan.
Namun, pembelaan itu tidak pernah dibahas sebanyak Teori Konspirasinya.
Sebagai renungan mengapa dengan perkembangan teknologi yang semakin
maju tidak ada misi lanjutan ke bulan atau misi ke luar angkasa lainnya.
Pendapat Pertama
Pendaratan Neil Amstrong dengan Apollo 11 Merupakan Kebohongan Besar
-Dulu, ketika banyak rumor kalau pendaratan di Bulan oleh
NeilArmstrong itu tidak pernah ada, saya belum begitu yakin. Begitu juga
ketika seorang kawan bilang kalau Apollo XI didaratkan’di Timur Tengah,
makanya si Neil sayup-sayup dengar suara adzan pas mendarat disana,
saya juga nggak percaya.
-Ketika saya nonton Aerospace Museum di Washington DC — saya malah
tambah yakin kalau pendaratan di Bulan benar-benar nyata. Soalnya di
situ digambarkan (foto-fotonya lengkap) pendaratan dilakukan sampai 4x!
(antara 1969-1973).
-Tadi malam, kepercayaan saya berubah total. Di acara TV FOX-5
semalam ditunjukkan fakta-fakta bagaimana “tipuan” supercanggih itu
banyak sekali kelemahan dan kengawurannya.
Misalnya:
– Dari gerakan para astronot dan kendaraan yang dipakai di Bulan, sama
sekali tidak terlihat mereka berada di ruang hampa anti gravitasi
(terlihat jelas setelah gerakannya dipercepat 2x dan 4x)
– Bendera Amerika yang berada di Bulan dalam foto terlihat berkibar-
kibar (padahal di Bulan tidak ada atmosfer, kok bisa ada angin ?)
– Ada pakar Fisika yang mengatakan, sampai sekarang (dengan teknologi
yang ada sekarang-pun!) dia tidak yakin manusia akan bisa bebas dari
pengaruh radiasi di angkasa luar yang hampa udara itu. Material yang ada
sekarang ‘belum’ menjamin bisa melindungi tubuh dari hal itu didukung
kesaksian mantan awak SKYLAB Russia yang memberi alasan kenapa Russia
tidak pernah mengirim awak ke angkasa luar di luar atmosfer).
– Foto-foto NASA diuji oleh pakar fotografi ternyata merupakan foto palsu (banyak bukti-bukti yang dibuat-buat)
– Bayangan foto astronaut/Apollo XI terlihat di banyak titik (spot)
yang berarti memakai pencahayaan” dari banyak sumber/angle, sementara
sumber cahaya di Bulan seharusnya hanya dari arah Matahari (SUN).
– Yang lebih mengejutkan, ternyata banyak astronot yang dikorbankan
(dibunuh) karena tahu terlalu banyak dan banyak omong (vocal). Detektif
yang menyelidiki ini juga mati secara misterius dalam kecelakaan mobil,
sementara bukti-bukti yang dikumpulkannya dalam koper hilang misterius
sampai saat ini.
Mudahnya begini :
Apa anda yakin dengan teknologi komputer — pakai program apa ya?– dan
telekomunikasi saat itu (tahun 1969), sudah bisa begitu hebat
mengontrol pendaratan langsung (live!) dari Bumi. Sementara ketika
Apollo I yang gagal meluncur dan membunuh seluruh astronotnya, pernah
gagal tes karena komunikasi ruang kontrol dan para astronot tidak
“tersambung”.
Sang astronot vokal yang akhirnya ‘dibunuh’ itu bilang begini:
bagaimana mau komunikasi ke Bulan, komunikasi antar-building (antar-
ruang saja) kalian nggak bisa membuatnya dengan baik, tragis bukan!
Aneh, jubir NASA masih juga tega-teganya ngotot kalau alasan-alasan yang
dikemukakan orang-orang di atas tak masuk akal. Argumen mereka, kalau
memang itu penipuan — masa sih seluruh orang/karyawan NASA dan mereka
yang terlibat proyek ini (yang jumlahnya ratusan ribu) kok bisa-bisanya
dibodohin semua? Apa itu masuk akal?
Para pengritik NASA (beberapa orang yang dulu mengritik sempat juga
‘di-Kopassus’-kan) menantang: kalau memang betul pernah ke Bulan, coba
dibuat teleskop super-teliti untuk melihat bahwa bekas-bekas pendaratan
(mobil astronot dan bendera Amerika yang ditinggal di Bulan)?
ampai saat ini memang tidak akan dibuat proyek teleskop itu.
Maklumlah, kata sang pengritik, sangat mudah membuat film super-canggih
(baca: penipuan besar-besaran) kalau dananya US$ 40 Billions!
Sementara,jawabannya barangkali masih harus kita tunggu dengan sabar
sampai 2 (tahun) ke depan. Kabarnya para
scientists Jepang sudah meluncurkan wahana angkasa luar untuk memotret permukaan bulan secara detail.
Apakah memang akan ditemukan “rongsokan” 2 bekas pendaratan Neil
Armstrong dkk serta bendera Amerika, The Stars spangled banner yang
berkibar-kibar dengan gagah itu? Kita tunggu saja hasil pelacakan para
scientists Jepang itu.
Ternyata, hanya
the Japan/Japanese that can say “NO”!, terhadap penipuan terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Pendapat Kedua
Tapi, benarkah misi Pendaratan Apollo 11 di bulan itu memang benar-benar dipalsukan oleh NASA dengan membuat filmnya di Studio?
Pada tanggal 15 Februari 2001,
American Fox TV Network menayangkan sebuah program yang disebut Conspiracy Theory : Did We Land on the Moon?
(Teori Konspirasi : Apakah Kita Sungguh Mendarat di Bulan?). Mitch Pileggi, seorang aktor dalam film X-Files memandu acara satu jam ini, menyatakan bahwa NASA telah memalsukan seluruh proyek Apollo ke Bulan dengan membuat filnya di Studio. Namun, mitos ini hanya diyakini sedikit orang di Amerika. Berdasarkan jejak pendapat Time pada tahun 1995 dan Gallup pada tahun 1999, yakni hanya sekitar 6% saja orang Amerika yang meragukan bahwa 12 Astronot telah berjalan di bulan. Ke-6% orang-orang yang meragukan hal itulah yang disebut sebagai penganut teori konspirasi.Para penganut Teori Konspirasi diluar Amerika mungkin lebih banyak lagi, menurut taksiranku, saat ini lebih banyak orang yang mempercayai mereka mengenai mitos tentang kepalsuan pendaraatan di Bulan yang dilakukan oleh NASA
Para penganut teori konspirasi dan orang yang skeptis tentunya mempunyai banyak bukti akan hal ini. Menurut mereka
banyak beberapa hal yang aneh pada foto-foto yang dipublikasikan oleh pihak NASA selama misi ke bulan tsb.
Diantaranya foto yang memperlihatkan bendera tampak berkibar, padahal di Bulan tidak ada atmosfer dan angin.
Mereka juga menunjukkan bahwa dalam semua foto yang seharusnya memperlihatkan para astronot sedang berada di
permukaan Bulan yang hampa udara, mereka tidak melihat obyek gambaran bintang-bintang dilangit yang gelap.
Tapi, saya berpendapat misi Apollo 11 ke bulan itu bukanlah merupakan suatu kebohongan .Mengapa?
Bintang Yang Hilang ?
Coba lihat gambar diatas,mengapa tidak ada bintang pada gambar yang diambil para astronot dari permukaan Bulan. Penjelasannya sangat sederhana, film dengan kualitas terbaik pun tidak dapat memperlihatkan secara bersamaan dua objek , yg satu sangat terang (pakaian astronot warna putih yang terkena sinar matahari) dan obyek lain yang redup (bintang). Story Mugrave, seorang astronot yg telah terbang keluar angkasa sebanyak enam kali, mengatakan bahwa ketika ia berada diluar pesawat , dibawah sinar matahari yang terang, ia tidak dapat melihat bintang-binatang. Namun ketika pesawat berada di dalam bayangan bumi dan matanya dapat beradaptasi dengan lingkungan yg lebih gelap, pada saat itulah dia dapat melihat bintang.
Penjelasan lainnya, pada langit Bumi, partikel-partikel atmosfer Bumi akan menghamburkan cahaya matahari pada panjang gelombang biru, sehingga langit siang hari pun tampak biru. Berbeda dengan Bulan, yang hampir dapat dikatakan tidak memiliki atmosfer sehingga langit senantiasa gelap, baik siang maupun malam. Jadi, jika kita berada di Bulan, tentunya bintang akan selalu terlihat. Tetapi kenapa tidak terekam dalam gambar yang diambil Apollo? Dalam foto itu, sebenarnya bintang tersebut ada, namun terlalu redup untuk ditangkap kamera. Kamera dan film yang digunakan oleh para astronot disetel untuk mengambil gambar-gambar kegiatan di Bulan. Exposure timenya diatur sedemikian rupa agar dapat merekam kondisi permukaan Bulan yang terang, bukan untuk mengambil gambar objek-objek lemah pada langit latar belakang.

Bendera Berkibar
Mengapa bendera bisa berkibar ditempat yang hampa udara seperti bulan. Logikanya,bendera dapat berkibar
apabila ada angin, karena hanya udara yg bergeraklah yg dapat mengibarkan bendera.
Penjelasan untuk ini adalah Tidak ada angin di dalamstudio film kecuali jika kipas angin dihidupkan.
Jika ada cukup banyak angin di studio film,sehingga bendera berkibar , angin itu juga pasti menggerakkan debudebu
di kaki mereka.
Untuk bisa berkibar, bendera tidak selalu membutuhkan angin. Setidaknya di ruang angkasa hal inilah yang terjadi. Pada kondisi di Bulan, bendera dipancangkan bukan hanya pada tiang vertikal, tapi terdapat juga tiang horizontal yang ditambahkan di bagian atas bendera, sehingga bendera tersebut tampak tergantung dan merentang. Selain itu permukaan Bulan yang keras mempersulit pemancangan tiang bendera, sehingga para astronot harus memutar tiang tersebut maju mundur agar bisa ditanamkan di tanah bulan. Akibat gerakan ini, bendera tersebut berkibar, atau yang sebenarnya lebih tepat jika disebut bergetar. Di Bumi kibaran bendera
terjadi beberapa detik dan diperlambat oleh udara, tapi kondisi vakum di
Bulan menyebabkan gerakan bendera tersebut tidak akan berhenti karena
tidak ada gaya dari luar yang menghentikannya. Sesungguhnya, bendera yg berkibar itu justru membuktikan bahwa para astronor
memang
berada di Bulan. Bendera itu bergoyang karena baru saja dipasang. Dan
terus bergoyang selama beberapa waktu dengan cara yang tidak biasa
karena gravitasi Bulan 1/6 gravitasi
Bumi, dan karena tidak ada udara di bulan untuk segera menghentikan
gerakan bendera.
Kawahnya Hilang ?
Pada foto yang lain, tidak tampak adanya
lubang bekas semburan roket (kawah) pada lokasi pendaratan. Untuk roket
seukuran Apollo seharusnya semburannya dapat menimbulkan lubang yang
besar pada permukaan Bulan. Jadi, bagaimana bisa roket mendarat mulus
tanpa membekaskan jejak besar?
Untuk melakukan sebuah pendaratan tentu tidak dilakukan dengan kecepatan tinggi tapi
dengan kecepatan yang diperlambat. Tidak ada satu orangpun yang
memarkirkan mobilnya dengan kecepatan 100 km/jam. Hal yang sama berlaku
juga pada Apollo 11. Semburan roket memiliki dorongan 5000 kg, tetapi
roket tersebut diperlambat sampai sekitar 1500 kg saat mendekati
permukaan. Dengan diameter pipa pengeluaran roket sebesar 54 inci (dari
Ensiklopedia Astronautica), dan ukuran roket sekitar 2300 inci persegi,
semburan roket hanya menimbulkan tekanan sekitar 0.75 kg /inci persegi.
Tekanan sebesar ini tidak akan sampai menimbulkan jejak lubang yang
besar.
Hasil foto-foto yang diambil di Bulan juga memperlihatkan adanya
bayangan yang kurang gelap. Obyek yang seharusnya gelap karena berada
dalam daerah bayangan, tetapi dalam foto dapat jelas terlihat, termasuk
tulisan di sisi pesawat. Jiika Matahari merupakan satu-satunya sumber
cahaya, dan tidak ada udara yang dapat menghamburkan cahaya, seharusnya
bayangan yang terjadi sangat gelap. Sebuah persepsi yang salah. Memang
ini bukan di Bumi dan cahaya Matahari tidak dapat dihamburkan dalam
kondisi hampa udara. Tapi di Bulan masih ada sumber cahaya lain yang
berasal dari Bulan sendiri. Debu di Bulan memiliki sifat yang khas:
yaitu memantulkan kembali cahaya ke arah sumber cahaya berasal.
Van Allen Belts
Untuk
mencapai bulan , astronot harus melewati Sabuk Radiasi Van Allen, yang
bisa meghasilkan jumlah radiasi cukup fatal, bagaimana mungkin mereka
dapat selamat?
Radiasi adalah hal yang tidak terlalu diperhatikan NASA sebelum penerbangan pertama, namun mereka
memenginvestasikan jumlah yang cukup besar untuk penelitian ini dan
menentukan bahwa resikonya minimal. Apollo memerlukan satu jam untuk
melewati sabuk radiasi untuk berangkat dan kembali lagi. Total radiasi
yang diterima astronot sekitar satu rem. Orang akan mengalami kesakitan
pada radiasi 100-200 rem, dan kematian pada radiasi 300+ rem. Jelas
dosisnya memiliki rentang yang sangat jauh untuk dianggap beresiko.
Sebenarnya,masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dari pihak Skeptic namun cukup sekian yang saya post kali ini.
Sumber : https://zacky14smama.wordpress.com dan Wikipedia