Kalian pasti tak asing lagi dengan kamera. Pada Zaman sekarang, kamera sudah banyak dikembangkan dan tentunya dengan beragam Resolusi yang membuat ketagihan untuk membeli. Bahkan Kamera Gygapixel telah berhasil dibuat pada saat ini. Tapi pernahkah kalian tahu kamera pertama di Dunia seperti apa? yuk baca selengkapnya :)
Gambar di atas merupakan Potret dari kamera pertama di Dunia. Lalu siapa yang memotretnya ?
Itulah penjelasan bagaimana cara kamera Pertama memotretnya yang saya kutip dari 1cak.
Abu ‘Ali Al-Hasan bin Al-Haytham, Ilmuwan kebanyakan menyebut dengan Ibnu Al-Haytham
atau Ibnu haytham atau juga Al-Hazen. Beliau lahir di Basra, Iraq pada
tahun 965 M, dikenal sebagai Polymath, yaitu istilah yang diberikan
kepada mereka yang menguasai berbagai bidang ilmu. Beliaulah Muslim
timur tengah yang menemukan Kamera pertama di Dunia.
Kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni
qamara, Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Haitham. Bapak fisika
modern itu terlahir dengan nama al-Haitham dan dikenal jenius sejak
kecil, Ia menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak
dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah.
Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu daripada menjadi
pegawai pemerintahan. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis
intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia
menimba beragam ilmu. Gairah keilmuannya yang tinggi membawanya
mengembara hingga ke Mesir.
Al-Haitham sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang
didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak belajar
secara mandiri hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu
falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika dan filsafat. Namun
secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik.
Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya.
Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting
mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul
buku. Sayangnya, hanya sedikit yang tersisa. Bahkan karya monumentalnya,
Kitab al-Manazhir, tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa
mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa latin.
Kamera pertama kali diciptakan oleh ilmuan Iraq yang juga seorang
Muslim; beliau adalah Abu ‘Ali Al-Hasan bin Al-Haytham. Ilmuan
kebanyakan menyebut dengan Ibnu Al-Haytham atau Ibnu haytham atau juga
Al-Hazen.
Beliau lahir di Basra, Iraq pada tahun 965 M. keahliannya pada ilmu
membawa ke Mesir untuk terus mencari dan menuntut ilmu dan akhirnya
singgah di Al-Azhar. Beliau juga dikenal sebagai Polymath, yaitu istilah
yang diberikan kepada mereka yang menguasai berbagai bidang ilmu.
Sejarah mencatat bahwa Al-Hazen adalah ilmuan yang menguasai berbagai
disiplin ilmu, diantaranya ialah falak, Matematika, geometri,
pengobatan, Fisika dan juga filsafat. Serta disiplin ilmu optic yang
membuatnya menciptakan kamera.
Prestasi bukan hanya sebagai pencipta kamera saja. Tapi masih banyak
karya-karya beliau baik berupa buku-buku atau juga barang yang banyak
memberikan inspirasi bagi para ilmuan setelahnya.
Ilmuan yang digelari sebagai “First Scientist” menciptakan penemuannya
yang sangat fenomenal ini pada tahun 1020 M di Al-Azhar Mesir. Dan 19
tahun setelah penemuannya itu beliau meninggal dunia di kota yang sama,
Mesir pada tahu 1039 M.
Dan kata kamera atau camera juga diilhami dari penemuan Al-hazen
tersebut, karena beliau sendiri yang memberikan nama untuk alat
ciptaannya itu dengan kata “Qumroh”. Berasal dari kata “Qomar” dalam
bahasa Arab yang berarti Bulan.
Karyanya ini terinspirasi oleh bulan itu sendiri. Qumroh pertama itu
ialah sebuah kamar kecil yang semua sudutnya tertutup rapat tak ada
cahaya sekali, hanya ada lubang kecil didepannya. Dan dengan lubang itu
cahaya akan masuk kemudian menyimpan bayangan yang terbayang masuk oleh
cahaya kedalam qumroh yang didalamnya sudah disediakan media untuk
menyimpan bayangan tersebut.
Jadi ibarat bulan, yang ia bersinar ditengah kegelapan. Pun demikian
qumroh yang gelap kemudian ada cahaya kecil yang masuk kedalamnya dan
menyimpan obyek yang terbawa oleh cahaya tersebut.
Maha karya al-Haitham yang paling menumental merupakan penemuan yang
sangat inspiratif yang dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin
al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera
obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana
matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang
kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata
diproyeksikan melalui permukaan datar.
Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja
kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster,
fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Dunia
mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat
bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan
teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu
menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera
obscura, atau kamar gelap.
Banyak karya-karya dari Al-Hazen ini yang memberikan inspirasi dan modal
dasar bagi para ilmuan setelahnya. Salah satunya yang paling masyhur
ialah kitabnya yang bernama “Al-Manazhir”, Orang-orang barat menyebutnya
dengan “The Optics”.
The Optics yang menyimpan banyak teori-teori ilmu tentang cahaya dan
lensa juga penglihatan ini banyak dipakai di Universitas-Universitas
Eropa dan bahkan menjadi materi wajib di banyak kampus di negeri Eropa.
Ini juga menjadi sanggahan bagi mereka yang selalu menyangka bahwa Islam
adalah agama yang mundur dan terbelakang, tidak mendukung ilmu dan
sains. Tapi sejarah mengatakan sebaliknya.
Sejarah telah menjadi saksi bahwa Islam adalah agama yang mendukung
penuh majunya ilu dan teknologi. Tercatat banyak ilmuan-ilmuan yang
muncul dari kalangan Muslim di berbagai bidang Ilmu. AL-Hazen hanya
salah satunya.
Setelah penemuan Fenomenal al-Haitham ini, dunia barat mulai
terinspirasi dan diperkenalkan pada abad 16 M, berturut-turut ilmuwan
barat terinspirasi oleh penemuan al-Haitham yaitu Cardano Geronimo (1501
-1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang
bidik lensa dengan lensa (camera). Giovanni Batista della Porta
(1535-1615 M). Johannes Kepler (1571
– 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan
lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar
proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh
modern).
Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691
M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya
kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan
al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk
menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen
pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827. Tahun
1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar
dari tentara Inggris selama Perang Crimean dan mengembangkan plat-plat
dalam perjalanan kamar gelapnya yang dikonversi gerbong. Kemudian pada
tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura
ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak.
Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Sumber : Blog Penemu
Jumat, 20 Mei 2016
Search
Postingan Lainnya
-
Matahari dalam sistem tata surya mempunyai peranan sangat besar, antara lain matahari sebagai pusat peredaran dan sebagai sumber te...
-
Kalian pasti tak asing lagi dengan kamera. Pada Zaman sekarang, kamera sudah banyak dikembangkan dan tentunya dengan beragam Resolusi yang m...
-
Teori konspirasi (conspiracy theory) adalah teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa...
-
Asal mula Tahun 1969, pesawat Apollo 11 berhasil membawa dan menjejakkan manusia untuk pertama kalinya di Bulan. Tentu kita sem...
-
Karena sekarang lagi musim Valak itu lho, bukan orang yang suka malak, tapi itu tuh Hantu di film horror "The Conjuring 2" yang se...
Blogger templates
Diberdayakan oleh Blogger.



0 komentar:
Posting Komentar